Traveloka Memperoleh Suntikan Modal Investasi Senilai US$ 500 Juta

Traveloka Memperoleh Suntikan Modal Investasi Senilai US$ 500 Juta

Perusahaan jasa pemesanan ticket serta hotel berbasiskan daring, Traveloka peroleh suntikan modal investasi sejumlah US$ 500 juta yang di pimpin oleh Expedia, Inc. Perusahaan yang lain yaitu East Ventures, Hillhouse Capital Group, JD. com serta Sequoia Capital. Expedia berperan sebesar US$ 350 juta dalam suntikan modal ini.

Traveloka Memperoleh Suntikan Modal Investasi Senilai US$ 500 Juta

Busyra Oryza, Public Relations Manager Traveloka menyebutkan, pendanaan itu nanti juga akan digunakan oleh Traveloka untuk lakukan ekspansi. ” Selama ini kami masih tetap serta juga akan konsentrasi untuk meningkatkan pasar Asia Tenggara, ” kata Busyra

Sayangnya Busyra belum juga ingin memberi dengan detil perincian ekpansi ke negara-negara Asia Tenggara itu. Traveloka yang disebut perusahaan travel berbasiskan daring itu sekarang ini sudah bekerja sama juga dengan 100 perusahaan penerbangan serta sudah melayani sekitaran 200. 000 rute penerbangan.

Banyaknya bisnis online yang tak bayar pajak

Direktorat Jenderal (Ditjen) Pajak Kementerian Keuangan menyebutkan banyak beberapa pebisnis on-line atau e-commerce yang dilengkapi dengan cek resi jne dan mempunyai pendapatan diatas Rp 4, 8 miliar per th. tidak taat membayar pajak, baik berbentuk Pajak Pendapatan (PPh) ataupun Pajak Bertambahnya Nilai (PPN). Pemicunya karna system pelaporan pajak di Indonesia memakai self assessment.

” Banyak yg tidak lapor Surat Pemberitahuan (SPT), tidak bayar pajak walau omzetnya telah lebih dari Rp 4, 8 miliar satu tahun, ” tutur Direktur Penyuluhan, Service, serta Hubungan Orang-orang (Humas) Ditjen Pajak, Hestu Yoga

Hestu Yoga menyebutkan, transaksi usaha on-line menjangkau Rp 80 triliun hingga Rp 100 triliun per th.. Nilainya diperkirakan selalu bertambah karena trend pergeseran pola hidup belanja orang-orang Indonesia dari konvensional ke e-commerce.

” Transaksi e-commerce menjangkau Rp 80 triliun hingga Rp 100 triliun. Tapi jumlahnya belumlah ada data dari BPS. Di konvensional turun, tapi bukanlah bermakna daya beli turun. Berubah ke e-commerce serta ini mesti diantisipasi, ” katanya.

Menurutnya, pebisnis on-line tidak taat menunaikan keharusan membayar pajak karna system pelaporan sekarang ini self assessment, yakni system pemungutan pajak yang memberi keyakinan pada Harus Pajak (WP) untuk mengkalkulasi, membayar, serta memberikan laporan sendiri jumlah pajak yang semestinya terutang berdasar pada ketentuan perundang-undangan perpajakan.

” Bila self assessment banyak yang tidak ingin lapor, karna ketidakpahaman atau tidaklah terlalu perduli ada keharusan perpajakan di situ. Mungkin jualan saat ini, tapi tidak lapor apa-apa, tidak lapor SPT, tidak bayar pajak walau sebenarnya telah jadi Entrepreneur Terkena Pajak (PKP) dengan omset diatas Rp 4, 8 miliar per th., ” katanya.

Oleh karenanya, Ditjen Pajak tengah mempersiapkan ketentuan skema atau mekanisme pemungutan pajak e-commerce yang bisa mencapai semua aktor usaha usaha on-line.

Continue reading »